Pages

Sabtu, 19 Mei 2012

PENDEKATAN PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Memecahkan Masalah dihadapi oleh setiap manusia dalam hidupnya dan setiap Masalah tersebut dipecahakan, maka orang tersebut sudah menemukan pelajaran baru. Karena itu memecahkan Masalah merupakan suatu bentuk belajar. Tetapi tidak semua Masalah yang dihadapi manusia dapat dipecahkan begitu saja, memecahkan Masalah mempnyai cara tersendiri. Tidak sedikit ahli yang megemukakan pendapat tentang cara penyelesaian Masalah yang dihadapi seseorang. Langkah-langkah penyelesaian Masalah  tidak hanya digunakan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari, tetapi penyelesaian Masalah juga banyak digunakan dalam dunia pendidikan salah satunya adalah pada pembelajaran matematika. Pemecahan Masalah dalam dunia pembelajaran matematika masuk pada pendekatan sering disebut pendekatan Problem Solving. Pendekatan Pemecahan Masalah banyak digunakan oleh para guru matematika karena pendekatan Pemecahan Masalah sudah diakui keberhasilannya dalam mencapai tujuan pembelajaran khususnya matematika. Namun, bagi calon guru mungkin masih bingung tentang pendekatan Pemecahan Masalah tersebut, maka dari hal tesebut makalah ini hadir untuk memberi penjelasan tentang Pemecahan Masalah. Mulai dari definisi pengajaran Pemecahan Masalah, ciri-ciri pengajaran berdasarkan Masalah, tujuan dan manfaat pengajaran berdasarkan Masalah, kelebihan dan kekurangan, dan sintaks pengajaran berdasarkan Masalah serta penerapan pengajaran berdasarkan Masalah dalam pembelajaran matematika.
 

B.     RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang tersebut dapat diambil rumusan Masalah, yaitu:
1.      Apa definisi pengajaran Pemecahan Masalah?
2.      Apa saja ciri-ciri pengajaran berdasarkan Masalah?
3.      Apa tujuan dan manfaat pengajaran berdasarkan Masalah?
4.       Apa kelebihan dan kekurangan pengajaran berdasarkan Masalah?
5.       Bagaimana langkah-langkah pengajaran berdasarkan Masalah?
6.      Bagaimana penerapan pengajaran berdasarkan Masalah dalam pembelajaran matematika?

C.    TUJUAN
Dari latar belakang tersebut dapat diambil rumusan Masalah, yaitu:
1.      Menjelaskan definisi pengajaran Pemecahan Masalah
2.      Menyebutkan ciri-ciri pengajaran berdasarkan Masalah
3.      Menjelaskan tujuan dan manfaat pengajaran berdasarkan Masalah
4.      Menyebutkan kelebihan dan kekurangan pengajaran berdasarkan Masalah
5.      Menjelaskan langkah-langkah pengajaran berdasarkan Masalah
6.      Menjelaskna penerapan pengajaran berdasarkan Masalah dalam pembelajaran matematika


BAB II
PENGAJARAN PEMECAHAN MASALAH

A.    Definisi Pengajaran Berdasarkan Masalah
Menurut Dewey belajar berdasarkan Masalah adalah interaksi antara stimulus dengan repons, merupakan hubungan dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan Masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga Masalah yang dihadapi dapat diselidiki, diniai, dianalisis, serta dicari Pemecahannya dengan baik.
Pengajaran berdasarkan Masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini memebantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk menegmbangkan pengetahuan dasar maupun dasar.[1]
Pemecahan Masalah merupakan perluasan yang wajar dari belajar aturan. Memecahkan Masalah dapat dipandang sebagai proses dimana pelajar menemukan kombinasi aturan-aturan yang telah dipelajarinya terlebih dahulu yang digunakannya untuk memecahkan Masalahyang baru. Namun, memecahakan Masalah tidak sekedar menerapkan aturan-aturan yang diketahui, akan tetapi juga menghasilkan pelajaran baru.
Pemecahan Masalah, metode belajar yang mengharuskan pelajar untuk menemukan jawabannya (discopery) tampa bantuan khusus. Namun discopery atau penemuan sendiri bukan syarat mutlak untuk memahami aturan-aturan yang lebih tinggi tarafnya. Akan tetapi ternyata, bahwa aturan menemukan aturan sendiri yang lebih tinggi dan akan diingat dalam jangka waktu lebih lama.
Memecahkan Masalah dihadapi oleh setiap manusia dalam hidupnya dan setiap Masalah tersebut dipecahakan, maka kita sudah menemukan pelajaran baru. Karena itu memecahkan Masalah merupakan suatu bentuk belajar.[2]
Menurut Arends (1997), pengajaran berdasarkan Masalah merupakan suatu pendekatan pemebelajaran dimana siswa mengerjakan perMasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan mengembangkan tingkat berpikir lebih tinggi, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri.[3]
Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM) dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian Masalah yang dihadapi secara ilmiah
Hakikat Masalah dalam Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM) adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan. Kesenjangan tersebut bisa dirasakan dari adanya keresahan, keluhan, kerisauan, atau kecemasan. Oleh karena itu, maka materi pelajaran atau topik tidak pelajaran atau topik tidak terbatas pada materi pelajaran yang bersumber  dari buku saja, akan tetapi juga dapat bersumber dari peristiwa-peristiwa tertentu sesuai dengan kurikulum yang berlaku.[4]
Belajar Pemecahan Masalah pada dasarnya adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memcahkan Masalah secara rasional, lugas dan tuntas. 
Dalam hal ini, hampir semua bidang studi dapat dijadikan sarana belajar Pemecahan Masalah. Untuk keperluan ini, guru (khususnya yang mengajar eksakta, seperti matematika dan IPA) sangat dianjurkan menggunakan model dan strategi mengajar yang berorientasi pada cara Pemecahan Masalah[5]
B.     Ciri-Ciri Pengajaran Berdasarkan Masalah
Menurut Arends (2001:349), berbagai pengembanagan pengajaran berdasarkan Masalah telah memberikan model pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.      Pengajuan pertanyaan atau Masalah. Pembelajaran berdasarkan Masalah mengorganisasikan pengajaran disekitar pertanyaaan dan Masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa.
2.      Berfokus pada keterkaitan antardisiplin. Meskipun pembelajaran berdasarkan Masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu, Masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam Pemecahannya, siswa meninjau Masalah itu dari banyak mata pelajaran.
3.      Penyelidikan autentik. Pembelajaran berdasarkan Masalah mengahruskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyeesaian nyata terhadap Masalah nyata.
4.      Menghasilkan produk dan memamerkannya. Pembelajaran berdasarkan Masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian Masalah yang mereka temukan.
5.      Kolaborasi. Pembelajaran berdasarkan Masalah dicirkan oleh siswa yang bekerja sama dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.[6]
Adapun ciri-ciri utama dari Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM) adalah sebagai berikut:
1.      PBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi PBM ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa.
2.      Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan Masalah. PBM menempatkan Masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran tanapa Masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3.      Pemecahan Masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara ilmiah.[7]
Sedangkan dalam buku Strategi Belajar matematika (Irzani:2009), ciri-ciri utama pembelajaran berdasarkan Masalah adalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau Masalah, memusatkan keterkaitan antar disiplin. Penyelidikan autentik (terapan), kerjasama, dan menghasilkan karya dan peragaan. Pembelajaran berdasarkan Masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa.[8]

C.    Tujuan dan Manfaat Pengajaran Berdasarkan Masalah
Tujuan Pengajaran Berdasarkan Masalah
1.      Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan ketterampilan Pemecahan Masalah
Secara sederhana berpikir diartikan sebagai proses yang melibatkan operasi mental seperti penalaran. Berpikir juga diartikan sebagai kemampuan untuk menganalisis, mengkrritik, dan mencapai kesimpulan berdasar pada inferensi atau pertimbangan yang seksama.
Hakikat kekomplekan dan konteks dari keterampila berpikir tingkat tinggi tidak dapat diajarkan menggunakan pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan ide dan keterampilan yang lebih konkret, tetapi hanya dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving) oleh peserta didik sendiri

2.      Belajar peranan orang dewasa yang autentik
Menurut Resnick, bahwa model pembelajaran berdasarkan Masalah amat penting untuk menjembatani gap antara pembelajaran disekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai diluar sekolah.
3.      Menjadi pembelajaran yang mandiri
Problem Based Instuktrion (PBI) berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan otonom. Dengan bimbingan guru yang secara berulang-ulang mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan, mencari penyelasaian Masalah nyata oleh mereka sendiri, siswa belajar untuk menyelesaikan menyelesaikan tugas-tugas itu secara mandiri dalam hidupnya yang layak.[9]
Sedangkan, manfaat Pengajaran Berdasarkan Masalah, yaitu PBM tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pengajaran berdasarkan Masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, Pemecahan Masalah, dan keterampilam intelektual.
Menurut Sudjana manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode Pemecahan Masalah. Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak diperoleh dari buku, tetapi dari Masalah yang ada disekitarnya.[10]
Strategi pembelajaran dengan Pemecahan Masalah dapat diterapkan:
1.         Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
2.         Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berfikir rasional siswa, yaitu kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru.
3.         Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan Masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
4.         Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya
5.         Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya.[11]
D.    Kelebihan dan kekurangan Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM)
Kelebihan Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM) sebagai suatu pendekatan pembelajaran, yaitu:
1.      Realistik dengan kehidupan siswa
2.      Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa
3.      Memupuk sifat inquiry siswa
4.      Retensi siswa jadi kuat
5.      Memupuk kemampuan Pemecahan Masalah[12]
Sedangkan, dalam strategi pembelajaran (Wina Sanjaya : 2006) PBM memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:
1.      Pemecahan Masalah (Problem Solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
2.      Pemecahan Masalah (Problem Solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
3.      Pemecahan Masalah (Problem Solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa
4.      Pemecahan Masalah (Problem Solving) dapat membantu siswa bagaimana menstransfer pengetahuan mereka untuk memahami Masalah dalam kehidupan nyata.
5.      Pemecahan Masalah (Problem Solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
6.      Pemecahan Masalah (Problem Solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap matapelajaran pada dasarnya merupakan cara berfikir yang harus dimengerti oleh siswa.
7.      Pemecahan Masalah (Problem Solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa
8.      Pemecahan Masalah (Problem Solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis.
9.      Pemecahan Masalah (Problem Solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
10.  Pemecahan Masalah (Problem Solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar.[13]
Disamping keunggulan, SPBM  juga memiliki kelemahan diantaranya:
1.         Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa Masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2.         Keberhasilan strategi pembelajaran melalui Pemecahan Masalah (Problem Solving) membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3.         Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahakan Masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.[14]
Pendapat lain tentang kekurangan Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM), yaitu:
1.      Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks
2.      Sulitnya mencari problem yang relevan
3.      Sering terjadi Miss-konsepsi
4.      Konsumsi waktu, model ini memerlukan waktu yang cukup dalam proses penyelidikan.[15]

E.     Langkah-Langkah Pengajaran Berdasarkan Masalah
Sintaks suatu pembelajaran berisi langkah-langkah praktis yang harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam suatu kegiatan. Pada pengajaran berdasarkan Masalah terdiri dari lima langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan situasi Masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja.


Sintaks Pengajaran Berdasarkan Masalah[16]
Tahap
Tingkah Laku Guru
Tahap-1
Orientasi siswa pada Masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena/demonstrasi/cerita untuk memunculkan Masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam Pemecahan Masalah yang dipilih.
Tahap-2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan Masalah tersebut
Tahap-3
Membimbing penyelidikan individual
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan emecahan Masalah.
Tahap-4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiakan karya yang sesuai seperti laporan, video, model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Tahap-5
Menganalisis dan mengevaluasi proses Pemecahan Masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Banyak ahli yang menjelaskan bentuk penerapan PBM , John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika menjelaskan 6 langkah PBM  yang kemudian dia namakan metode Pemecahan Masalah (Problem Solving), yaitu:
1.         Merumuskan Masalah, yaitu langkah siswa menentukan Masalah yang akan dipecahkan.
2.         Menganalisis Masalah, yaitu langkah siswa meninjau Masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
3.         Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan Pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
4.         Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk Pemecahan Masalah.
5.         Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa untuk mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan
6.         Merumuskan rekomendasi Pemecahan Masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.[17]
Sesuai dengan tujuan PBM adalah untuk menumbuhkan sikap ilmiah, dari beberapa untuk PBM yang dikemukakan oleh para ahli, maka secara umum PBM bisa dilakukan dengan langkah-langkah:
1.         Menyadari Masalah, implementasi PBM harus dimulai dengan kesadaran adanya Masalah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjangan yang dapat dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial.
2.         Merumuskan Masalah, kemampuan siswa untuk dapat menetukan proritas Masalah. Siswa dapat memamfaatkan pengetahuannya untuk mengkaji, merinci dan menganalisis Masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan Masalah yang jelas, spesifik, dan dapat dipecahkan.
3.         Merumuskan hipotesis, kemampuan siswa untuk dapat menetukan sebab akibat dari Masalah yang ingin diselesaikan.
4.         Mengumpulkan data, kemampuan siswa untuk dapat mengumpulkan data dan memilih data, kemudian memetakan dan menyajikannya dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.
5.         Menguji hipotesis, kemampuan siswa untuk dapat menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat hubungannya dengan Masalah yang dikaji dan dapat mengambil keputusan dan kesimpulan.
6.         Menentukan  pilihan penyelesaian,  kemampuan siswa untuk dapat memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya.
Sedangkan menurut Ibrahim (2003:15), peran guru didalam kelas PBI antara lain sebagai berikut:
1.         Mengajukan Masalah atau mengorientasikan siswa kepada Masalah autentik, yaitu Masalah kehidupan nyata sehari-hari
2.         Memfasilitasi/membimbing penyeidikan misalnya melakukan pengamatan atau melakukan eksperimen/percobaan
3.         Memfasilitasi dialog siswa
4.         Mendukung belajar siswa.[18]


Sedangkan cara membantu anak dalam memecahkan Masalah, yaitu:
1.      Cara yang paling tidak efektif adalah bila kita memperlihatkan kepada anak tentang cara memecahkan Masalah itu.
2.      Cara yang lebih baik adalah memberikan intruksi kepada anak secara verbal untuk membantu anak memecahkan Masalah itu.
3.      Cara yang terbaik ialah memecahkan Masalah itu langkah demi langkah dengan menggunakan aturan tertentu, tampa merumuskan aturan itu secara verbal. Dengan menggunakan contoh, gambar-gambar, dan sebagainya, belajar anak itu di bantu dan dibimbing untuk menemukan sendiri Pemecahan Masalah itu.[19]

F.     Penerapan Pengajaran Berdasarkan Masalah Dalam Pembelajaran Matematika
Banyak sekali materi matematika yang lain yang bisa diselesaikan dengan pengajaran berdasarkan Masalah. Salah satunya tentang Kesebangunan Bangun Datar.  Dalam hal ini Kesebangunan Bangun Datar dengan standar kompetensi memahami kesebangunan bangun datar dan penggunaannya dalam Pemecahan Masalah dan kompetensi dasar mengidentifikasi bangun-bangun yang sama dan sebangun (kongruen).
Kegiatan inti pembelajaran berdasarkan Masalah yaitu Siswa diminta untuk melakukan kegiatan seperti yang ada dalam buku paket latihan 1.1 hal 3 tentang dua bangun datar yang kongruen.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1.      Siswa diminta membuat jajar genjang ABCD dan EFGH
2.      Siswa menggunting gambra tersebut dengan mengikuti sisi-sisinya
3.      Siswa menempelkan jajargenjang ABCD di atas jajargenjang EFGH sedemikian hingga menutup dengan sempurna jajargenjang EFGH.
4.      Siswa memperhatikan masing-masing sisi dan sudut yang saling berhimpitan.
5.      Siswa berdiskusi dengan dengan teman, apakah pada kedua bangun di atas terdapat pasangan sisi-sisi yang sama panjang dan sudut-sudut yang sama besar? Apakah kedua segitiga itu kongruen? Jelaskan alasanmu!
Dari langkah-langkah tersebut siswa dapat menemukan sendiri tentang syarat dua bangun datar yang kongruen.


BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa,
A.    Pengajaran berdasarkan Masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini memebantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk menegmbangkan pengetahuan dasar maupun dasar
B.     Menurut Arends ciri-ciri pengajaran berdsarkan Masalah yaitu
1.      Pengajuan pertanyaan atau Masalah.
2.      Berfokus pada keterkaitan antardisiplin
3.      Penyelidikan autentik
4.      Menghasilkan produk dan memamerkannya.
5.      Kolaborasi.
C.     Tujuan Pengajaran Berdasarkan Masalah
1.      Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan ketterampilan Pemecahan Masalah
2.      Belajar eranan orang dewasa yang autentik
3.      Menjadi pembelajaran yang mandiri
Manfaat Pengajaran berdasarkan Masalah yaitu Pengajaran Berdasarkan Masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, Pemecahan Masalah, dan keterampilam intelektual.
D.    Kelebihan Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM) sebagai suatu pendekatan pembelajaran, yaitu:
1.      Realistik dengan kehidupan siswa
2.      Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa
3.      Memupuk sifat inquiry siswa
4.      Retensi siswa jadi kuat
5.      Memupuk kemampuan Pemecahan Masalah
Sedangkan, kekurangan Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM), yaitu:
1.      Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks
2.      Sulitnya mencari problem yang relevan
3.      Sering terjadi Miss-konsepsi
4.      Konsumsi waktu, model ini memerlukan waktu yang cukup dalam proses penyelidikan.
E.     John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika menjelaskan 6 langkah PBM  yang kemudian dia namakan metode Pemecahan Masalah (Problem Solving), yaitu:
1.         Merumuskan Masalah
2.         Menganalisis Masalah
3.         Merumuskan hipotesis
4.         Mengumpulkan data
5.         Pengujian hipotesis
6.         Merumuskan rekomendasi Pemecahan Masalah


DAFTAR PUSTAKA

Irzani.2009. Strategi Belajar Mengajar Matematika.Yogyakarta:Media Grafindo Press.

Nasution. 2000. Berbagai PendekatanDalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta:Kencana Prenada Media.

Syah, Muhibbin. 2010.Psikologi Belajar. Cetakan ke-10 (edisi revisi). Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Edisi pertama cetakan ke-3. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.


LAMPIRAN-LAMPIRAN

1.      Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
2.      Buku paket Matematika untuk SMP/MTs Kelas IX


[1] Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Edisi pertama cetakan ke-3. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal.91
[2] Prof.Dr.S.Nasution. 2000. Berbagai PendekatanDalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara. Hal 172
[3] Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Edisi pertama cetakan ke-3. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal.92
[4] Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.PD. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta. Kencana Prenada Media. Hal. 214-215
[5]Muhibbin Syah. 2010.Psikologi Belajar. Cetakan ke-10 (edisi revisi). Jakarta  Raja Grafindo Persada. Hal.127
[6] Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Edisi pertama cetakan ke-3. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal.93
[7] Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.PD. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta:Kencana Prenada Media. Hal. 214
[8] Irzani.2009. Strategi Belajar Mengajar Matematika.Yogyakarta:Media Grafindo Press. Hal. 49
[9] Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Edisi pertama cetakan ke-3. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal 94
[10] Ibid . Hal 96
[11] Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.PD. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta. Kencana Prenada Media. Hal. 214
[12] Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Edisi pertama cetakan ke-3. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal 96
[13] Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.PD. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta. Kencana Prenada Media. Hal. 220
[14] Ibid hal 220
[15] Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Edisi pertama cetakan ke-3. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal 97
[16] Ibid. Hal 98
[17] Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.PD. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta:Kencana Prenada Media. Hal 217

[18] Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Edisi pertama cetakan ke-3. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal 97
[19] Prof.Dr.S.Nasution. 2000. Berbagai PendekatanDalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara. Hal 175

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar